Selasa, 06 Januari 2015

Bakti Sosial Pengobatan Gratis Posko Lowu Dua











Mahasiswa KKN-T Angkatan 106 Posko Lowu Dua














Sejarah Singkat Kelurahan Lowu Dua



Sejarah singkat kelurahan

ASAL USUL KELURAHAN
                        Dalam mewujudkan cita-cita bangsa, maka sejarah adalah satu bagian pemersatu kekuatan dan modal dalam  perjuangan, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai budaya dan seni yang dimiliki oleh setiap masyarakat yang mendiami suatu daerah tertentu yang perlu untuk digali dan dilestarikan serta merupakan warisan yang terus menerus diwarisi oleh generasi ke generasi sebagai penerus cita-cita bangsa. 
Demikian juga dengan wanua/desa/kelurahan Lowu II, Kecamatan Ratahan yang sedang berkembang saat ini, tentu tidak akan lupa akan sejarah serta para leluhurnya.
Kata WANUA LOWU diambil dari bahasa Pasan LUWUK yang berarti tersendiri, serta tempat yang banyak ditumbuhi pohon Amo atau Kuu (Sukun).  Penyusunan sejarah Wanua Lowu Kelurahan Lowu II, masih banyak terdapat kekurangan yang ditemui seperti pepatah mengatakan “tidak ada buah pisang yang tidak ada bengkoknya”.
Kerena itu Tim Penyusun mengharapkan tegur sapa dari semua pihak dalam usaha penyempurnaanya, dan terima kasih kepada:
1.      Pemerintah Kelurahan Lowu I dan Lowu II
2.      Para orang-orang tua dari Kelurahan Lowu I dan Lowu II yang telah banyak membantu dalam penyusunan ini, serta syukur pada Tuhan Yang Maha Pengasih yang telah menyertai hingga selesainya penyusunan ini.


MASA PRASEJARAH WANUA LOWU

            Pada abad 16 dibagian Utara negeri Wioi, berdiam sekelompok orang ditempat yang namanya sekarang Wanua Kangan (Negeri Lama).  Mereka hidup tersendiri, dimana jumlah mereka kira-kira 30 rumah tangga.  Mereka dipimpin oleh seorang yang gagah berani yang namanya LIKUR.  Tempat tinggal mereka kira-kira 7 meter dari permukaan tanah, dengan maksud supaya mereka aman dari gangguan musuh ataupun binatang buas, serta sangat berjauhan satu dengan yang lainnya.
            Kelompok orang ini berasal dari Mangindane (Filipina), yang berlayar menuju Sangir dan akhirnya mereka turun dipesisir pantai Bentenan, dan dari sanalah mereka mencari lokasi untuk membuka areal perkebunan dan pemukiman baru dengan berjalan kearah Barat, dan tiba di Wanua Kangan.



PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN

            Karena mereka mempunyai kebiasaan berpindah-pindah tempat, maka mereka berencana unuk mencari tempat yang baru lagi untuk dijadikan tempat pemukiman mereka, setelah sekian lama mereka berada di Wanua Kangan.
            Perjalan ini berlanjut ke arah Barat, dan mereka membawa ayam jantan tiba diatas sebuah gunung (Topinesang = gunung yang dipotong).  Mereka duduk sambil melepaskan lelah, sambil makan sirih dan pinang serta menghisap tembakau sebagai kebiasaan mereka.
            Mereka melanjutkan perjalanan kearah selatan lagi, dan setelah kira-kira 1500 meter, mereka istirahat di tepi sungai.  Disini ayam yang mereka bawa berkokok tiga kali, kemudian mereka memberi tanda dengan batu lokasi tersebut.  (Dihalaman Bpk. Thomas Rolos alm.  Lingk. IV, Kelurahan Lowu II).
            Sesudah itu mereka melajutkan perjalanan ke arah barat melewati sungai (Sungai Palaus), dan sekitar 30 meter kembali ayam yang mereka bawa berkokok, dan ditempat itu juga diberi tanda dengan batu (Pasik Wanua) yang terdapat di halaman dari Bpk. Welem Londa alm. (Lingk. III, Kel. Lowu I).
            Perjalanan mereka teruskan ke arah selatan, dan sekitar 500 meter kembali ayam yang mereka bawa berkokok lagi, tapi dalam bunyi yang lain, yaitu Ta ... Ta ... an  Ta ... Ta ... an  Ta ... Ta ... an.  Kemudian ayam itu mereka sembelih dan dikuburkan, dan tempat itu diberi tanda dengan batu.  (Di depan gereja Dame Tosuraya).  Dan dari asal bunyi Ta ... Ta ... an itulah dikenal sebutan Ratahan.
            Kemudian mereka kembali ke Wanua Kangan untuk memanggil keluarga mereka untuk pindah ketempat yang baru lagi, tetapi sebahagian mereka menempati lokasi dimana untuk pertama kalinya ayam berkokok, karena ditempat itu banyak ditumbuhi pohon amo yang buahnya dapat mereka makan.
            Walaupun lokasi tersebut tersendiri/terpencil atau dalam bahasa pasan “na LUWUK” tapi mereka tetap menjadikan tempat itu sebagai tempat pemukiman mereka, dan kemudian dalam perkembangannya menjadi Wanua LOWU.
            Tahun 1963 seluruh walak-walak : Ratahan, Pasan, Ponosakan, dan Tonsawang mengadakan rapat di WANUA LOWU disuatu tempat di tepi sungai, diantara dua buah batu sebagai Pasik Wanua, mereka berikrar untuk menyerang musuh penjajah Belanda.  (Masyarakat serta orang-orang tua serta literatur yang ada, akhirnya pada tanggal 15 Maret 2005 bertempat di Kantor Kelurahan Lowu II, kedua Tim Penyusun Sejarah Wanua Lowu yang terdiri dari Tim Penyusun dari Kelurahan Lowu I, dan Lowu II sepakat untuk menetapkan tahun 1683, sebagai tahun lahirnya WANUA LOWU).
            Palaus yang sekarang adalah nama sungai berasal dari bahasa Pasan Ratahan yaitu Malalos yang artinya “Teruskan Perjuangan melawan musuh”.
            Kedua Tim juga menyepakati Logo Wanua Lowu adalah “A y a m  J a n t a n” dengan moto “PALALOS WU MALALOS” yang  artinya “Lanjutkan dan teruskan perjuangan untuk membangun di segala bidang “.

SEJARAH KEPEMIMPINAN DAN PEMERINTAHAN

Adapun kepemimpinan dari kelompok masyarakat dimasa itu dikenal sebagai berikut :
  1. Likur
  2. Pongak
  3. Tonaas
  4. Dotu

Dan kepemerintahan dipimpin oleh Hukum Tua, yang untuk Wanua Lowu terdiri dari :
      1.   Pilipus Pasuhuk                                                  tahun 1860-1890
      2.   Ferdinan Kowombon                                          tahun 1890-1925
      3.   Samuel Ruata                                                      tahun 1925-1933
      4.   Karel Pasuhuk                                                    tahun 1933-1944
      5.   Markus Rolos                                                      tahun 1944-1953
      6.   Julius Pasuhuk                                                    tahun 1953-1955
      7.   Hendrik Ruata                                                     tahun 1955-1959
      8.   Jehezkiel Uway                                                   tahun 1959-1962
      9.   Alfonus Sakul                                                      tahun1962-1963 (PJS)
      10. Habel Kaumpungan                                            tahun 1963-1968
      11. Salmon Rantung                                                  tahun 1968-1973
      12. Julius Siwi                                                           tahun1973-1974 (PJS)
      13. Ari Derk Poneke                                                 tahun1974-1977

Pada tanggal 12 Desember 1977 Desa Lowu dimekarkan menjadi Lowu I dengan Kepala Desanya Bapak Arie D. Poneke, dan Desa Lowu II (Nataan) dengan Kepala Desanya Bapak Daud Lowongan (PJS).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979, Desa Lowu II ditetapkan menjadi Kelurahan Lowu II dengan 8 Lingkungan, dan pada tanggal 1 Januari 1981, BAKN mengangkat/menetapkan Bapak Evens Langingi sebagai Lurah.

Lurah-lurah yang mengabdi di Kelurahan Lowu II :
      1.  Bpk. Evans Langingi (alm.)                                 tahun 1981-1994
      2.  Bpk. Jeremias Rori                                               tahun 1994-1996
      3.  Bpk. Deki Frans Siwi, S.Pd                                  tahun 1996-2002
      4.  Bpk. Jantje Rantung, B.Sc                                    tahun 2002-2008
      5.  Bpk. Jan hendrik Tora SE                                    tahun 2008-2010
      6.  Bpk. R. Dennie Rondo, S.IK                                tahun 2010-2012
      7. Bpk. Jantje Wanta,SE                                            tahun 2012- 2014
      8. Ibu. Meyta Ompi, SE                                             tahun 2014-sekarang