Sejarah
singkat kelurahan
ASAL
USUL KELURAHAN
Dalam
mewujudkan cita-cita bangsa, maka sejarah adalah satu bagian pemersatu kekuatan
dan modal dalam perjuangan, karena di
dalamnya terkandung nilai-nilai budaya dan seni yang dimiliki oleh setiap
masyarakat yang mendiami suatu daerah tertentu yang perlu untuk digali dan
dilestarikan serta merupakan warisan yang terus menerus diwarisi oleh generasi
ke generasi sebagai penerus cita-cita bangsa.
Demikian
juga dengan wanua/desa/kelurahan Lowu II, Kecamatan Ratahan yang sedang
berkembang saat ini, tentu tidak akan lupa akan sejarah serta para leluhurnya.
Kata WANUA LOWU diambil dari bahasa Pasan LUWUK yang berarti tersendiri, serta
tempat yang banyak ditumbuhi pohon Amo
atau Kuu (Sukun). Penyusunan sejarah
Wanua Lowu Kelurahan Lowu II, masih banyak terdapat kekurangan yang ditemui
seperti pepatah mengatakan “tidak ada
buah pisang yang tidak ada bengkoknya”.
Kerena
itu Tim Penyusun mengharapkan tegur sapa dari semua pihak dalam usaha
penyempurnaanya, dan terima kasih kepada:
1.
Pemerintah
Kelurahan Lowu I dan Lowu II
2.
Para
orang-orang tua dari Kelurahan Lowu I dan Lowu II yang telah banyak membantu
dalam penyusunan ini, serta syukur pada Tuhan Yang Maha Pengasih yang telah
menyertai hingga selesainya penyusunan ini.
MASA
PRASEJARAH WANUA LOWU
Pada abad 16 dibagian Utara negeri
Wioi, berdiam sekelompok orang ditempat yang namanya sekarang Wanua Kangan (Negeri Lama). Mereka hidup
tersendiri, dimana jumlah mereka kira-kira 30 rumah tangga. Mereka dipimpin oleh seorang yang gagah
berani yang namanya LIKUR. Tempat tinggal mereka kira-kira 7 meter dari
permukaan tanah, dengan maksud supaya mereka aman dari gangguan musuh ataupun
binatang buas, serta sangat berjauhan satu dengan yang lainnya.
Kelompok orang ini berasal dari Mangindane (Filipina), yang berlayar menuju Sangir dan akhirnya mereka turun dipesisir pantai Bentenan, dan dari sanalah mereka mencari lokasi untuk
membuka areal perkebunan dan pemukiman baru dengan berjalan kearah Barat, dan
tiba di Wanua Kangan.
PROSES
PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN
Karena mereka mempunyai kebiasaan
berpindah-pindah tempat, maka mereka berencana unuk mencari tempat yang baru
lagi untuk dijadikan tempat pemukiman mereka, setelah sekian lama mereka berada
di Wanua Kangan.
Perjalan ini berlanjut ke arah
Barat, dan mereka membawa ayam jantan tiba diatas sebuah gunung (Topinesang = gunung yang dipotong). Mereka duduk sambil melepaskan lelah, sambil
makan sirih dan pinang serta menghisap tembakau sebagai kebiasaan mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan kearah
selatan lagi, dan setelah kira-kira 1500 meter, mereka istirahat di tepi
sungai. Disini ayam yang mereka bawa
berkokok tiga kali, kemudian mereka memberi tanda dengan batu lokasi tersebut. (Dihalaman
Bpk. Thomas Rolos alm. Lingk. IV,
Kelurahan Lowu II).
Sesudah itu mereka melajutkan
perjalanan ke arah barat melewati sungai (Sungai
Palaus), dan sekitar 30 meter kembali ayam yang mereka bawa berkokok, dan
ditempat itu juga diberi tanda dengan batu (Pasik
Wanua) yang terdapat di halaman dari Bpk.
Welem Londa alm. (Lingk. III, Kel.
Lowu I).
Perjalanan mereka teruskan ke arah
selatan, dan sekitar 500 meter kembali ayam yang mereka bawa berkokok lagi,
tapi dalam bunyi yang lain, yaitu Ta ...
Ta ... an Ta ... Ta ... an Ta ... Ta ... an. Kemudian ayam itu mereka sembelih dan
dikuburkan, dan tempat itu diberi tanda dengan batu. (Di
depan gereja Dame Tosuraya). Dan
dari asal bunyi Ta ... Ta ... an
itulah dikenal sebutan Ratahan.
Kemudian mereka kembali ke Wanua Kangan untuk memanggil keluarga
mereka untuk pindah ketempat yang baru lagi, tetapi sebahagian mereka menempati
lokasi dimana untuk pertama kalinya ayam berkokok, karena ditempat itu banyak
ditumbuhi pohon amo yang buahnya
dapat mereka makan.
Walaupun lokasi tersebut
tersendiri/terpencil atau dalam bahasa pasan “na LUWUK” tapi mereka tetap menjadikan tempat itu sebagai tempat
pemukiman mereka, dan kemudian dalam perkembangannya menjadi Wanua LOWU.
Tahun 1963 seluruh walak-walak : Ratahan, Pasan, Ponosakan, dan Tonsawang mengadakan rapat di WANUA LOWU disuatu tempat di tepi
sungai, diantara dua buah batu sebagai Pasik
Wanua, mereka berikrar untuk menyerang musuh penjajah Belanda. (Masyarakat
serta orang-orang tua serta literatur yang ada, akhirnya pada tanggal 15 Maret
2005 bertempat di Kantor Kelurahan Lowu II, kedua Tim Penyusun Sejarah Wanua
Lowu yang terdiri dari Tim Penyusun dari Kelurahan Lowu I, dan Lowu II sepakat
untuk menetapkan tahun 1683, sebagai tahun lahirnya WANUA LOWU).
Palaus
yang sekarang adalah nama sungai berasal dari bahasa Pasan Ratahan yaitu Malalos yang artinya “Teruskan Perjuangan melawan musuh”.
Kedua Tim juga menyepakati Logo Wanua Lowu adalah “A y a
m J a n t a n” dengan moto “PALALOS WU MALALOS” yang artinya “Lanjutkan dan teruskan perjuangan untuk
membangun di segala bidang “.
SEJARAH
KEPEMIMPINAN DAN PEMERINTAHAN
Adapun
kepemimpinan dari kelompok masyarakat dimasa itu dikenal sebagai berikut :
- Likur
- Pongak
- Tonaas
- Dotu
Dan
kepemerintahan dipimpin oleh Hukum Tua, yang untuk Wanua Lowu terdiri dari :
1. Pilipus Pasuhuk tahun 1860-1890
2. Ferdinan Kowombon tahun 1890-1925
3. Samuel Ruata tahun 1925-1933
4. Karel Pasuhuk tahun 1933-1944
5. Markus Rolos tahun
1944-1953
6. Julius Pasuhuk tahun 1953-1955
7. Hendrik Ruata tahun 1955-1959
8. Jehezkiel Uway tahun 1959-1962
9. Alfonus Sakul tahun1962-1963
(PJS)
10.
Habel Kaumpungan tahun
1963-1968
11.
Salmon Rantung tahun
1968-1973
12.
Julius Siwi tahun1973-1974
(PJS)
13.
Ari Derk Poneke tahun1974-1977
Pada tanggal 12
Desember 1977 Desa Lowu dimekarkan menjadi Lowu I dengan Kepala Desanya Bapak
Arie D. Poneke, dan Desa Lowu II (Nataan)
dengan Kepala Desanya Bapak Daud Lowongan (PJS).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979, Desa
Lowu II ditetapkan menjadi Kelurahan Lowu II dengan 8 Lingkungan, dan pada
tanggal 1 Januari 1981, BAKN mengangkat/menetapkan Bapak Evens
Langingi sebagai Lurah.
Lurah-lurah yang
mengabdi di Kelurahan Lowu II :
1. Bpk. Evans Langingi (alm.) tahun 1981-1994
2. Bpk. Jeremias Rori tahun 1994-1996
3. Bpk. Deki Frans Siwi, S.Pd tahun
1996-2002
4. Bpk. Jantje Rantung, B.Sc tahun
2002-2008
5. Bpk. Jan hendrik Tora SE tahun
2008-2010
6. Bpk. R. Dennie Rondo, S.IK tahun 2010-2012
7.
Bpk. Jantje Wanta,SE tahun
2012- 2014
8.
Ibu. Meyta Ompi, SE tahun
2014-sekarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar